Ada kebiasaan yang dimiliki oleh sebagian masyarakat Surabaya sebelum paruh abad 20, yaitu memelihara binatang berjenis kuda. Bagi orang Surabaya tempo dulu, memelihara kuda bukan hanya untuk alat transportasi saja, tetapi juga sebagai simbolitas. Sebuah lambang kewibawaan dan kemewahan bagi pemiliknya. Dalam catatan sejarah, kuda merupakan jenis binatang yang dekat dengan kehidupan manusia. Keberadaannya hampir dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tenaganya juga digunakan untuk keperluan perang.

Karena sebagai simbolitas, pemilik kuda juga dari golongan tertentu, termasuk fungsi sosial dan peruntukannya. Kalangan priyayi, saudagar, pejabat Jawa, kepala pedukuhan hingga ulama merupakan orang-orang yang biasanya memiliki kuda, dan mereka pergunakan untuk tunggangan maupun dokar. Sebagaimana memiliki binatang peliharaan sudah barang tentu memerlukan perawatan. Apalagi kuda merupakan binatang yang membutuhkan perlakuan khusus. Kuda-kuda ini biasanya dititipkan pada istal (Kandang Kuda) yang telah disediakan.

Kuda yang telah dititipkan akan dirawat oleh seorang mantri jaran, atau bisa dibuatkan istal sendiri disamping rumah sang pemilik agar lebih efisien. Pada masa tempo dulu ada beberapa kandang di Surabaya untuk merawat kuda. Antara lain di Margorejo Stal, Kalibokor Stal, Jojoran Stal, Pandegiling Stal, Karang Tembok Gang Stal dan lain sebagainya. Laju modernisasi tak bisa dibendung, tenaga kuda pun mulai tergantikan oleh mesin otomotif. Istal tempat penitipan kuda dan jasa mantri jaran tak lagi dibutuhkan. Kini yang tersisa hanya tetenger, perkampungan bekas kandang kuda, yang dibelakang namanya terdapat embel-embel Stal. (cs/shc)