Kisah ini terjadi sekitar awal tahun 90-an saat aku masih duduk di bangku SMA. Seperti biasa, sepulang sekolah terkadang aku main di kediaman kakak sepupuku yang jaraknya satu kilometer dari rumah. Kebetulan saat itu hari Sabtu, jadi banyak orang di rumahnya. Dua kali dalam sebulan, Kak Imron, kakak sepupuku selalu pergi ke Pasar Turi, Surabaya, kulak (membeli) barang-barang elektronik untuk dijual lagi. Ia terbilang sukses dalam keluarga besarku karena mempunyai kios di seputaran Pasar Lama, Probolinggo. “Had Hadi ayo ikut ke Surabaya kulakan barang. Kalau kamu ikut, kamu pamit dulu ke bapakmu.. nanti kita berangkat setelah ashar” ajaknya singkat.

Selepas ashar kami berdua berangkat dari Probolinggo, mobil yang kami tumpangi melaju dengan santai. Tiga jam kemudian kami sampai di Kota Surabaya. Perjalanan agak lama, karena seingatku mobil yang kami tumpangi adalah minibus Mitsubishi Colt, bukan jenis mobil berkecepatan tinggi. Sesampai di Kota Pahlawan, kami tidak langsung ke Pasar Turi karena hari sudah gelap. Kak Imron mengarahkan mobil berbentuk kotak ini ke penginapan yang terletak di Jalan Pandegiling, tepatnya di Hotel Pancar. Setelah mengurus administrasi di meja terima tamu, kami mendapat kamar di lantai dua. Ruangan yang kami tempati lumayan ekslusif, karena terdapat TV di dalamnya.

Setelah meletakkan barang bawaan yang tidak begitu banyak, kami keluar untuk membeli makan di warung sekitar hotel. Kulihat jalanan tampak ramai. Becak dengan penumpangnya tampak berlalu lalang. Motor maupun sepeda onthel hilir mudik di jalanan depan hotel “Ooh iya ini kan malam minggu, banyak orang pergi mencari hiburan” gumamku. Seusai makan datang dua pria sepantaran Kak Imron memarkir motor 2 taknya disamping warung. Ia menghampiri kakakku dengan akrab, kami bersalaman dan saling ngobrol. Rupanya pria tersebut kawan lama Kak Imron yang tinggal di Surabaya, sepertinya mereka sudah janjian untuk bertemu. Aku pun menguap, mata rasanya berat. “Kalau kamu ngantuk balik saja ke kamar, ini kuncinya Had! Aku masih lama disini, nongkrong dulu sama konco lawas” tegur kakakku.

Sampai di hotel aku langsung menuju tangga untuk naik ke lantai dua. Selazar yang aku lewati terasa sepi dan sunyi, hanya angin malam yang menyapa tubuhku, tak terdengar suara orang berbincang atau televisi. Lampu kamar hotel pun banyak yang gelap pertanda tak ada orang di dalamnya. Kebetulan kamar yang kami inapi berada hampir di pojokan lorong. Batinku “Tumben hotel ini sepi. Biasanya hotel semacam ini ramai di akhir pekan karena banyak orang dari daerah berlibur ke Kota Surabaya, entah sekadar jalan-jalan ke plaza, Kebun Binatang, Pasar Turi atau ke tempat lainnya”. Setiba di kamar aku langsung menyalakan TV sambil merebahkan diri. Seingatku, yang aku tonton serial film barat di channel RCTI.

Tak terasa aku tertidur dengan TV yang masih menyala. Namun kemudian aku terbangun, kutengok jam menunjukkan sudah larut malam. TV yang tadi kutonton tak ada lagi siarannya, maklum jaman dulu berbeda dengan sekarang. Kalau sekarang siaran TV bisa sampai dini hari atau bahkan sesudah subuh. Di dalam kamar hotel berlantai dua ini aku masih sendirian, kakakku mungkin lagi asyik nongkrong dengan kawan-kawannya. Tiba-tiba aku terkejut! Aku mendengar suara cekikikan seorang wanita. Kurasakan suara tersebut berada di depan samping kanan kamarku. Dalam hati, mungkin dia tamu hotel yang baru menginap dan sedang bersenda gurau. Aku merasa tak sendirian lagi karena di lantai dua ini ada orang selain aku.

Kucoba tutup mata tapi tak bisa. Padahal lampu neon di langit-langit kamar telah kuganti nyalanya dengan lampu dop agar lebih mudah untuk memejamkan mata. Mungkin aku kebanyakan minum kopi seusai makan malam tadi sehingga susah tidur. Tak berselang tiba-tiba kucium bau melati dari dalam kamar. Perasaan di area hotel tak ada tumbuhan tersebut. Dalam hati mungkin ini parfum milik tamu yang baru datang, terbawa angin hingga masuk ke kamarku. Kemudian aku dikejutkan oleh suara ketukan dari balik jendela kaca. Tuk..tuk..tuk, iramanya tak cepat, pelan tapi berulang. Hingga membuatku merasa terganggu. Kucoba bangkit menghampiri jendela itu untuk melihat ada apa gerangan.

Langkah kakiku menjadi agak berat, bau melati juga tak kunjung hilang, malah sekarang tercium bau anyir. Meski terasa aneh kuberanikan mendekati jendela itu lalu kubuka kelambunya. Sreek.. suara besi pengait kelambu saling bergesekan. Setelah kelambu terbuka, astaga!! muka Pocongan berada tepat di hadapanku. Mukanya mengering, matanya melotot terlihat menjijikkan. Tubuhku langsung gontai jatuh duduk bersimpuh di lantai. Merinding, keringat dingin dan kaku membesut tubuhku. Aku tak berani menoleh ke jendela itu lagi, aku hanya diam terpaku dengan mulut terkunci. Dalam hati hanya berdoa menyebut Nama-Nya.

Setelah kuat, aku bangkit pergi ke dinding untuk menekan saklar, mengganti lampu dop yang temaram dengan lampu neon. Setelah itu aku naik ke ranjang. Diatas ranjang kutarik selimut, pandanganku nanar ke awang-awang. Duk duk duk.. Suara agak berat seperti langkah kaki terdengar dari atas plafon. Batinku tak mungkin tikus mempunyai beban seperti itu, apalagi langkahnya semakin kerap, bisa jebol plafon tersebut. Bulu kuduk di tangan dan tengkukku mulai berdiri, rasa merinding menjalar lagi. Tiba-tiba suara dari atas plafon menghilang, keadaan terasa sunyi, aku semakin tak tenang. Belum lima menit berlalu aku dikagetkan oleh suara cekikikan dan jeritan wanita. Hiii hii hiii hii… kali ini suaranya lebih melengking daripada yang tadi, seolah berada di depan pintu kamar.

Jantungku berdegup keras, tak kerasan seperti ingin keluar dari tempat ini tapi tak berdaya. Dalam hati aku sempat misuh, tapi aku tersadar dan berdoa memohon Kepada-Nya. Akhirnya gangguan-gangguan gaib itu lenyap, mulai pocongan hingga suara cekikikan tak muncul lagi, aku merasa lega namun tetap saja tak bisa tidur. Kukira aku bisa tenang ternyata tidak, tiba-tiba kran air di kamar mandi mengucur sendiri, terdengar seperti ada orang sedang mandi. Teror kali ini makin mencekam karena berada di dalam kamar. Aku hanya bisa pasrah melungker dari balik selimut. Keringat dingin membasahi tubuhku lagi. Dan aku terus berdoa, sebagai manusia hal ini hanyalah sebuah halusinasi, ujian yang harus kuhadapi.

Tok tok tok tok tok..!! Aku mendengar ada yang mengetuk pintu dengan keras. Jantungku berdegup kencang, aku enggan menghampirinya khawatir pocongan yang tadi datang lagi. Aku tak menghiraukannya, tapi aku harus membukanya. Suara Kak Imron memanggilku “Had hadi.. Had tolong bukakan pintunya, ini aku?” Namun aku masih ragu jangan-jangan pocongan yang tadi datang kembali menyerupai wujud kakakku. Aku dengarkan terus suara itu, ku kuatkan keyakinanku, ternyata benar itu kakakku. Dengan langkah agak lunglai kubuka pintu ternyata benar itu Kak Imron, aku merasa lega. Keesokan pagi kami pergi ke warung yang sama untuk sarapan sebelum berangkat ke Pasar Turi. Usai makan kakakku membeli rokok di sebuah lapak seberang jalan, kuberanikan diri bertanya pada bapak, suami pemilik warung, kuceritakan kejadian semalam. Beliau menimpali “Kamar itu toh, beberapa waktu lalu di dalam kamar itu ada seorang wanita yang meninggal karena bunuh diri”, mendengar itu aku terhenyak. (cs/shc)