Perlawanan tradisi dengan moderenisasi memang tak nampak secara jelas, seperti hujan berselimut badai. Kalangan tradisi beranggapan bahwa moderenisasi lambat laun menggerus apa yang telah dipertahankan sejak lampau. Begitu juga sebaliknya, kaum moderen menganggap tradisi merupakan hal yang tidak efektif, kuno dan ketinggalan jaman. Surabaya yang sudah menjadi kota sejak seabad lalu juga punya beragam tradisi, bahkan beberapa entitas budaya masih ada dan dijaga oleh masyarakat kampung.

Salah satunya ialah dalam peringatan 1 Suro, yang tak bisa lepas dengan festival tradisi budaya, yang selalu diperingati oleh masyarakat Jawa di perkotaan maupun pedesaan. 1 Suro sendiri merupakan permulaan Tahun Baru Jawa asimilasi dua keyakinan yang beberapa abad silam di inisiatori oleh Sultan Agung dari Keraton Mataram. Di Kota Surabaya peringatan ini menjadi sebuah aspek penting bagi masyarakat, khususnya di perkampungan yang masih memegang tradisi leluhur.

Dalam pitutur Jawa terdapat istilah “Jaja desa mawa cara” yang maksudnya, lain kampung lain pula tata caranya, namun mempunyai kesamaan visi. Lantas ritual apa saja yang dilaksanakan oleh masyarakat Surabaya dalam memperingati 1 Suro sebagai Tahun Baru Jawa di era moderen ? Masyarakat Surabaya mengaplikasikan peringatan 1 Suro atau lebih familiar disebut Suroan sesuai dengan tata cara di kampungnya yang telah dilakukan secara turun temurun, mungkin sejak kakek nenek mereka.

Hal yang dilakukan oleh masyarakat Surabaya saat Suroan dengan masyarakat di pedesaan tentu agak berbeda. Namun disini masyarakat masih menjadikan gotong royong sebagai tumpuan dalam melaksanakan kegiatan yang dianggap sakral. Sifat ini menumbuhkan solidaritas dan meringankan beban diantara sesamanya, agar kegiatan yang dimaksud bisa terlaksana dengan baik. Karena 1 Suro dianggap hari suci, kebiasaan masyarakat Surabaya dalam memperingatinya dengan menggelar doa bersama sebagai wujud syukur Kepada Tuhan Y.M.E sekaligus penghormatan pada para leluhur serta alam. Biasanya doa bersama ini dilakukan di Balai RT, perempatan jalan atau di pepunden kampung dengan istilah Barikan disertai sajian tumpeng.

Kaum pria akan melakukan kerja bhakti merawat punden atau makam sesepuh pendiri kampung yang ada di lingkungannya, termasuk membersihkan tempat ibadah. Bagi keluarga yang mempunyai rejeki lebih, mereka akan membuat bubur Suro lalu dibagikan kepada para tetangga serta sanak famili. Para pemuda yang aktif di kegiatan Langgar tak ketinggalan juga melaksanakan kirab keliling kampung, mereka berjalan beriringan melantunkan doa demi keselamatan tempat tinggal mereka. Bagi warga perkotaan seperti Surabaya peringatan 1 Suro merupakan warna budaya yang dapat merekatkan hubungan personal, serta wajib dijaga keberadaannya karena mengandung nilai keberagaman serta gotong royong. (wan/shc)