Berita kekalahan Jepang dalam perang Asia Timur Raya memberikan semangat bagi para pemuda untuk segera mengambil alih kekuasaan yang sedang vacuum. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi.

Selama tiga tahun segala macam bentuk siaran radio diawasi ketat oleh Jepang. Namun para pemuda di Surabaya berhasil menyerobot siaran Jepang dan menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan dalam bahasa Madura.

Pada Tanggal 18 Agustus, seluruh anggota Daidan PETA Gunungsari dikumpulkan dan dibariskan di lapangan. Seluruh pasukan PETA diminta meletakkan senjatanya dan meninggalkan lapangan. Kemudian mereka diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.

Tak lama kemudian truk-truk Jepang mengangkuti semua senjata yang semula dipegang oleh pasukan PETA. Jepang masih belum mengabarkan tentang kekalahannya dan berita proklamasi kepada rakyat Surabaya. Bahkan saat itu anggota PETA sendiri tidak mengerti situasi yang sedang terjadi.

Awalnya berita kemerdekaan hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Namun pada tanggal 20 Agustus 1945 berhasil diterbitkan oleh surat kabar Suara Asia yang pada saat itu adalah satu-satunya koran yang beredar di Surabaya.

Residen Sudirman segera membuat pidato untuk menghadapi situasi yang akan datang agar tidak terjadi kerusuhan. Sementara itu para pemuda berhasil menguasai beberapa instalasi vital yang sebelumnya dijaga ketat oleh tentara Jepang. Tentara Jepang yang menyadari situasi pada saat itu bersikap lebih lunak kepada rakyat, meskipun Kempetai mengeluarkan pengumuman yang bernada ancaman jika rakyat membuat kerusuhan.

Maka pada tanggal 21 Agustus 1945 kota Surabaya kembali terang benderang setelah para pemuda berhasil menguasai jawatan listrik. Seketika kehidupan di kota Surabaya kembali ramai setelah tiga tahun dalam pengawasan ketat bala tentara Jepang.

Berikut ini adalah rentetan peristiwa yang terjadi pada bulan Agustus 1945 di Surabaya :

1. 17 Agustus 1945

Berita Proklamasi yang terjadi di Jakarta dikirimkan melalui kode Morse ke kantor berita Domei Surabaya pada jam 11.00. Oleh karyawan kantor berita Domei informasi tersebut diselundupkan pada surat kabar Suara Asia. Karyawan Domei saat itu beberapa diantaranya adalah Bung Tomo, Pak Yacob, RM Bintarti dan Astuti Kabul (kemudian menjadi istri A. Azis pemilik Surabaya Post). Sedangkan karyawan Suara Asia ialah Mohammad Ali adik Imam Suparti (kemudian menjadi pemilik Penjebar Semangat). Oleh Suara Asia berita tersebut dijadikan pamflet-pamflet dan selebaran, yang selanjutnya akan disebar keseluruh Jawa Timur.

2. 18 Agustus 1945

Karyawan Radio Surabaya Hosho Kyoku berhasil menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan dalam bahasa Madura pada jam 19.00. Pemilihan bahasa Madura adalah siasat untuk mengelabui tentara Jepang yang setiap saat mensensor pemberitaan. Ketika itu tentara Jepang yang menjaga Radio Hosho Kyoku hanya menguasai Bahasa Indonesia. Surabaya Hosyo Kyoku merupakan Stasiun Radio di Surabaya, sebelumnya milik Belanda namun diambil alih oleh Jepang.

a. PROKLAMASI BAHASA MADURA

“Sengko kabbhi bangsa Indonesia klaban reja anjata’agi kamardhika’anna Indonesia. Hal hal tasangkot bi’ ngallena kakobasa’an ban en-laenna elampa’agi klaban tjara se tartib tor edalem bakto se pande”

Djakarta tanggal 17 boelan 8, 2605

Attas nyamana bangsa Indonesia
Soekarno Hatta

b. BAJAWARA

“Kita bangsa Indonesia sarana iki nelakake Kamardikaning Indonesia. Bab-bab kang ngenani pemindahan pengoewasa lan liya-liyane ditindakake klawan tjara kang teliti lan ing dalem tempo kang saenggal-enggale”

Djakarta tanggal 17 sasi 8, taoen 2605

Atas namaning bangsa Indonesia
Soekarno Hatta

c. Di jakarta dilakukan pembubaran PETA dan Heiho oleh tentara Jepang. PETA atau Pembela Tanah Air adalah orang-orang Indonesia yang dilatih kemiliteran oleh Jepang dan bertugas untuk menjaga daerahnya masing masing. Sementara Heiho adalah orang-orang Indonesia yang dilatih Jepang untuk ikut maju berperang di garis depan. Mereka inilah yang kemudian menjadi tulang punggung kekuatan militer Republik pada masa revolusi.

Foto Bagus Kamajaya

3. 19 Agustus 1945

Pemberitaan Proklamasi dalam bahasa Indonesia bisa dilakukan oleh Radio Surabaya pada tanggal 19 Agustus saat penjagaan Jepang lengah. Terjadi insiden pengibaran bendera Merah Putih di Markas Polisi Istimewa, di Coen Boulevard yang dilakukan oleh Agen Polisi III Nainggolan.

4. 20 Agustus 1945

Secara resmi Pimpinan Polisi Istimewa karesidenan Surabaya M. Yasin merasa sudah tidak terikat oleh Jepang. Pengibaran Bendera Merah Putih tetap dilakukan di depan Kantor Polisi Istimewa. Sedianya satuan Polisi Istimewa adalah kesatuan aparat Internasional yang dipersiapkan menyambut peralihan kekuasaan dari Jepang ke Sekutu. Surat kabar Suara Asia menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan ke seluruh penjuru Jawa Timur.

5. 21 Agustus 1945

Satuan Polisi Istimewa atau disebut Tokubetsu Kaisatsu Tai menyatakan diri sebagai Polisi Republik Indonesia dan tidak terikat oleh ketentuan Internasional. Komandan Polisi Istimewa Takata dan Nishimoto menyatakan diri melepas tanggung jawab kesatuannya. Demi keselamatan, mereka disarankan untuk tidak meninggalkan rumah dinasnya. Sedangkan semua persenjataan diamankan keluar kota yaitu di Ngoro dan Sidoarjo. Beberapa persenjataan mulai dari jenis ringan hingga persenjataan berat diperoleh. Termasuk beberapa truk dan kendaraan lapis baja.

6. 22 Agustus 1945

Secara de facto Radio Surabaya Hosyo Kyoku telah berubah menjadi Radio Republik Indonesia.

7. 23 Agustus 1945

Atas instruksi Presiden Soekarno agar membentuk Komite Nasional Indonesia. Di Surabaya dipelopori oleh Angkatan Muda Indonesia (AMI) dan dilakukan rapat selama tiga hari. Kemudian rapat dimulai pada tanggal 25 hingga 27 Agustus 1945. Rapat selama tiga hari tersebut menghasilkan susunan kepengurusan, yakni Ketua Doel Arnowo, Wakil ketua Bambang Soeparto dan Mr. Dwidjosewojo. Penulis Roeslan Abdul Gani, diikuti oleh beberapa anggota diantaranya Dr. Angka Nitisastra, Radjamin Nasution dan Masmuin. Dalam rangka menyambut sidang pertama KNI di Jakarta tanggal 29 – 31 Agustus, KNI menyerukan kepada rakyat Surabaya untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Pengibaran Bendera Merah Putih ini dilarang oleh Satuan Polisi Jepang yang terkenal bengis yaitu Kempetai dengan menyebarkan pamflet-pamflet larangan. Tetapi oleh rakyat Surabaya pamflet-pamflet tersebut disobek-sobek dan bendera Merah Putih tetap dikibarkan. Peristiwa ini oleh Ruslan Abdulgani dikenang sebagai Flaggen Actie. Mulai tanggal ini, rakyat di kampung-kampung kota Surabaya serentak mengibarkan Bendera Merah Putih tanpa rasa takut kepada Jepang.

8. 24 Agustus 1945

Secara resmi para pembesar Jepang membacakan tentang berakhirnya perang Asia Timur Raya, beserta pernyataan Tenno Heika dan Seiko Sikikan di hadapan Pamong Praja. Bergeraklah para pemuda Indonesia di bawah naungan AMI (Angkatan Muda Indonesia) pimpinan Ruslan Abdulgani yang sejak diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 selalu mencari keterangan dan berani merebut kekuasaan Jepang.

9. 28 Agustus 1945

Tercapai kesepakatan antara Inggris dan Belanda melalui CAA (Civil Affairs Agreement). Yaitu Inggris akan membantu Belanda mengembalikan kekuasaannya atas Hindia Belanda (Indonesia). Adanya CAA tersebut, orang-orang Belanda leluasa menggunakan dan membonceng sekutu dengan menjadi anggota RAPWI (Rehabilitation Allied Prisoner of War Internees and Intercross). Selain itu orang-orang Belanda juga dimasukkan kedalam barisan tentara Inggris yang datang ke Indonesia. Akhir bulan Agustus sebuah pesawat milik sekutu berputar-putar di langit kota Surabaya. (bk-cs/shc)