Bersama Komunitas Surabaya Historical kali ini Teras Surabaya berkesempatan melakukan eksplore di Kampung Tua Kranggan, Kelurahan Sawahan, Kota Surabaya, Kamis (2/09/21). Mendengar nama Kranggan selalu identik dengan kuliner lontong balap atau afdruk foto, padahal kampung ini memiliki episode tersendiri. Dalam eksplore tersebut kami melihat lebih dekat bagaimana kampung ini menjaga eksistensi sebagai kawasan yang merupakan bagian Keraton Surabaya era silam. Berpredikat kampung tua ada banyak peninggalan di kawasan ini, namun hanya beberapa saja yang kami tuju, yang menjadi identitas Kampung Kranggan.

Sumur Kuno, sumur berukuran jumbo ini ada sejak jaman Belanda. Sebelum jaringan PDAM masuk, dahulu warga mengambil air dari sumur ini. Tak jauh dari Sumur Kuno kita akan menjumpai sebuah rumah lawas yang dahulu berfungsi sebagai kantor kelurahan. Rumah ini cukup terawat meski sempat dipugar, aksen kunonya masih tampak tegas. Selanjutnya kita akan menengok Pesarehan Buyut Kuning. Menurut cerita tutur, makam berjajar tiga ini merupakan makam saudagar muslim berdarah Tionghoa, konon masih mempunyai kekerabatan dengan Mbah Karimah.

Kampung Pejuang, di era 45 banyak pemuda Kranggan yang menjadi patriot merah putih. Bukan hanya peninggalan fisik berupa rumah lawas atau punden berbentuk sumur, Kampung Kranggan juga melahirkan beberapa tokoh yang mewarnai dunia seni Surabaya. Diantaranya almarhum Cak Lutfi eks grup lawak Galajapo, yang merupakan seniman multitalenta. Dari eksplore malam tersebut ada hal menarik yang dapat kita rasakan, bagaimana perkampungan tua Surabaya yang berada di pusat kota, mampu menjadi penyeimbang dari perlombaan pembangunan yang akhir-akhir ini semakin pesat. (cs/shc)