Kearifan lokal yang saat ini sudah sangat langka, kembali menunjukkan kehadirannya. Kota Surabaya memperlihatkan bahwa kearifan lokal di Kota Pahlawan ini masih ada dan perlu dilestarikan. Hal tersebut disadari oleh Komunitas Pecinta Layangan di Surabaya untuk menggelar lomba layang-layang di masa-masa PPKM yang masih berlaku.

Komunitas SKF “Surabaya Kite Fighter” yang diketuai oleh Pak Mat dan kru pada Minggu siang (12/9/21), menyelenggarakan lomba layang-layang di tengah sawah milik masyarakat Kampung Lebak, Kota Surabaya.

Om Frengky menyadari bahwa layangan termasuk kearifan lokal yang bila tidak dilestarikan akan punah seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju. “Pandemi seperti ini banyak orang yang nganggur karena di PHK, jadi bisa stress. Makanya kami dari SKF mengadakan lomba ini untuk teman-teman yang nganggur di rumah agar bisa ikut, supaya permainan layang-layang tidak punah” Ucap Om Frengky.

Uniknya permainan ini bukanlah lomba layang-layang hias, melainkan lomba “aduan layang-layang” di mana skill untuk bermain layang-layang benar-benar diuji disini. Dan teknik ini merupakan ciri khas dari perlombaan layang-layang di Surabaya.

 

Perlombaan ini sangat menarik karena hadiah yang diberikan juga sangat luar biasa, yaitu berupa uang tunai dan tropi. Bukan hanya SKF yang ikut berpartisipasi dalam lomba ini, tapi ada juga komunitas lain yang hadir, yaitu Perkasa dan NF.

Dalam masa pandemi saat ini respon peserta juga sangat luar biasa. Terbukti, peserta yang ikut lomba bukan hanya datang dari Kota Surabaya sendiri, melainkan ada yang datang dari Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan.

Harapan kedepan semoga lomba layang-layang ini dapat didaftarkan di KONI. Agar lomba atau permainan layang-layang semakin diketahui oleh masyarakat luas, dan tentunya kelak bisa diakui oleh Dispora. Sebab sampai saat ini Dispora belum mengetahui jika Surabaya masih memiliki permainan yang mengandung unsur kearifan lokal, yang perlu diakui dan dilestarikan. (gat/hvs)